Jumat, 22 Mei 2020

Jalan diri

Jalan hening.

“Siapa yang mengenal Tuhan-Nya, lidahnya akan menjadi bisu”.

Maulana Rumi salah satu sufi yang memberikan ruang khusus dalam menjelaskan persoalan hening dan diam. Namun kira-kira mengapa kaum sufi begitu menaruh perhatian tentang diam dan hening? Berikut ini diantara beberapa faktor yang menjelaskan posisi diam dalam persoalan tasawuf dan juga menjelaskan beberapa kareksteristik diam:

1. Rahasia Ilahi tidak sepantasnya diungkapkan di majelis-majelis yang sebagian besar dihadiri oleh orang-orang awam.

2. Diam atau hening salah satu dari adab suluk sebab diam akan mensucikan batin manusia. Syekh Sahal Tustari (salah satu sufi besar) mengatakan, “hening tak akan dicapai dengan sempurna kecuali dengan khalwat, dan taubat tidak akan benar kecuali dengan hening”.

3. Maulana Rumi dalam Matsnawi mengatakan: 

Jika engkau tak ingin dihasut syaitan,
Hilangkan ego dan keakuan dan berlindunglah pada kejujuran,
Jika kau tak punya kejujuran, paling tidak, diamlah. Karena perkataan  menegaskan ‘kita’ dan ‘saya’.
Perkataan yang menetap di hati akan menguatkan nalar,
Efek dari diam, nalar jiwa akan menemukan segala yang dicari. Namun saat kau berkata, nalarmu yang sangat aktif, Kurangilah nalarmu agar kau tetap baik,
Seseorang yang kurang bicaranya, pikirannya tinggi, Namun saat bicara yang banyak, nalar pun sirna.

4. Bagi Rumi tanpa bahasa adalah suatu bentuk dari bahasa itu sendiri. Maksudnya terkadang dalam memahami sesuatu yang tak terpahami bisa melalui keheningan dengan bertanya ke dalam diri kita.

5. Diam pada hakikatnya dipahami sebagai suatu pengalaman. Khususnya makrifat terkait dengan Tuhan pada tahapan tertentu tak lagi mampu terwakili oleh kata-kata. Disini manusia membutuhkan suatu bentuk keheningan agar manusia dapat memahaminya melalui pengalaman ke dalam diri yang paling batin.

6. Kata Rumi dalam Matsnawi:

Seorang arif mulutnya tertutup, namun hatinya penuh rahasia, Mulutnya tak bergerak, namun ada lantunan melodi di dalam hatinya, Para arif yang telah meraih medali Ilahi, meski rahasia bersama dirinya, Namun mereka menyembunyikannya.

Ia mengajarkan rahasia perbuatan kepada siapa saja yang lidahnya diam, dan mulutnya tertutup.

7. Pada prinsipnya, alam makna adalah alam keheningan (tanpa bentuk dan tanpa materi) yang justru bertindak sebagai penggerak alam materi. Oleh sebab itu tak heran jika para sufi mengarahkan seluruh eksistensinya menuju alam keheningan.

8. Keheningan akan membuahkan kemurnian dan dari kemurnian akan membuahkan bahasa yang paling indah sebagaimana yang dihasilkan oleh kaum sufi dalam membahasakan pengalamannya.

9. Kata Maulana Rumi:

Makanan Nafsul Muthmainnah adalah diam, Makanan Nafsun Nathiqah adalah perkataan.

10. Diam termasuk salah satu faktor yang mampu memisahkan antara hak dan batil. Tanpa simbol dan kesirnaan mutlak dapat ditemukan dalam keheningan. Saat manusia diam, rahasia-rahasia akan mendekat kepadanya dan hatinya terbuka dalam mendengarkan rahasia-rahasia.

11. Esensi diam sangat terkait dengan esensi cinta. Mereka yang memahami makna diam akan memahami pula makna cinta sebab ada kaitan erat antara cinta dengan diam dalam tradisi sufi.

Allahu a'lam ..

Selasa, 19 Mei 2020

Qarin

Apa itu Qarin...?!.

"Bahwa setiap anak yg terlahir didunia sll disertai malaikat dan Jin Qarin, untuk mendampingi ". Al-Hadist.

Pendampingan tersebut, bertujuan untuk menjadikan manusia itu mempunyai sifat Alamiah. Agar ia belajar akan kehidupan, agar mereka paham akan pengorbanan dn perjuangan, sehingga menjadi manusia yg sempurna.

Pendamping malaikat, untuk menghembuskan (membisikan) ketaatan dn ketaqwaan kepada Allah, untuk menumbuhkan sifat yg baik dn indah.

Sedangkan Qarin, bertujuan untuk membisikan kemungkaran, ingkar kpd Allah dn sgl sifat" yg buruk. Dgn cara memupuk nafsu, ego dan keakuan manusia, sehingga ia banyak keinginan", tdk bersyukur dn keras hati. Jadi, Qarin ini bertugas mempengaruhi jiwa dan pikiran manusia untuk cenderung ingkar kpd Allah. Jadi jgn bangga dgn pendamping Qarin, krn ia lah yg menarik Khadam dr setiap dzikir"mu, agar ia berteman dgn mu.

Dengan adanya dua hal tersebut, sehingga manusia itu mengenal perjuangan dn pengorbanan. Jihad kpd nafsu dn egonya, untuk mencapai insan kamil, sesungguhnya ia sedang berperang dgn Qarinya sendiri.

Jadi, Qarin itu bukan untuk pembenaran seseorang untuk berteman dn bersekutu dgn jin, semisal khadam. Tapi justru hrs kita perangi, kita jauhi....walaupun ia tdk pernah menyerah selama jasad dan nyawa masih ada.

Nah, apakah Rasululullah dn pr Wali ada Qarin-nya...?!. Jawabnya adalah Tidak, krn Qarinya sdh kabur, krn dlm diri beliau sdh terbit Nur Muhammad, cahaya yg tdk bisa disentuh oleh pr Jin dn Iblis.

Begitu jg kita, untuk terbebas dr pengaruh Qarin, perbanyaklah bershalawat, agar cahaya Muhammmad menyelimuti lahir dn bathin kita, agar sgl bentuk Qarin dn jin" yg lainya, pergi dr diri kita. Tergantikan cahaya Muhammad, sehingga cahaya keindahan itu menyinari ahlaq kita.

Bismillah..

"Sesungguh nya demi kesempurnaan ciptaan, di ilham kan 2 jalan pada jiwa, ia itu jalan ketaqwaan dan jalan kefasikan, beruntung lah bagi yang mensuci kan (jiwa) nya dan merugi lah bagi yang mencemari (jiwa) nya".

(QS. As-Syam :7-10).

#cipt, khadhimul sirrul asrar
#sekumpul
#sedulur.....

Senin, 18 Mei 2020

Cahaya itu bernama Muhammad

MUHAMMAD SANG CAHAYA 
"""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""
         Dikutip oleh :
        جعفر الدين الجيلان الصدق

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
وما محمد الا رسول

Saudara-saudariku hamba  الله yang saya hormati sekalian...............

Nur (Cahaya) adalah :
Penerang Kegelapan.
Yang terpekat dari semua kegelapan adalah :
Kebodohan. Sebab >
Menerangi semua ruang kegelapan dan kebodohan itu, haruslah Nur yang paaaaaling terang yang mampu menerangi seluruh titik-titik gelapnya kehidupan.
Dari itulah.......
Para Sufi menyebutnya dengan sebutan sebagai :
" Nur Muhammad "
Dengannya lah kegelapan alam dan kebodohan ummat manusia dapat tercurah dengan pencerahan Cahaya kemanusiaan yang dikokohkan.
Allah Ta'ala berfirman dalam Surah Al- Maidah. Ayat 15 dan 16 yaitu :

(15).
يأهل الكتب قد جاءكم  رسولنا يبين لكم كثيرا مما كنتم تخفون من الكتب و يعفوا عن  كثير°
قد جاءكم  من الله نور و كتب مبين
Artinya :

" Hai ahli kitab ......
Sesungguhnya  telah datang kepadamu Rasul Kamu menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al- Kitab  yang kamu sembunyikan, dan (banyak pula) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang cahaya dari الله dan kitab yang menerangkan."

(16).
 يهدى به الله من اتبع رضونه، سبل السلم يخرجهم  من الظلمت الى النور بأذنه - و يهديهم الى صرط مستقيم
Artinya :

" Dengan kitab itulah الله menunjukkan orang-orang yang mengikuti keridha'an-Nya kejalan keselamatan.
Dan (dengan kitab Itu pula) الله mengeluarkan orang-orang dari kegelapan kepada Cahaya yang terang-benderang dengan seizin- Nya, dan menunjuki merekan kejalan yang lurus."

****
Saudara-saudariku sekalian........

Dalam dua Ayat yang saya  sebutkan diatas, bahwa الله menyatakan :
Pancaran Nur Muhammad dengan dasar mistis-mistis Islam :

-.Kitab yang jelas (كتب مبين).
- Jalan keselamatan(سبل السلم).
- Petunjuk (يهدى به).
Dan jalan yang lurus (صرط مستقيم).

Dengan kata lain saudara-saudariku sekalian,  memahami :
 " Kitab Realitas " 
Manusia memerlukan perantaraan cahaya  kenabian.
Dalam masalah ini adalah
" Nur Muhammad "

Ini adalah mustahil melihat, apalagi membaca dan memahami Ayat dan Petunjuk Alam Semesta dalam kegelapan.
Sebab : 
Sebagai Cahaya ILahi ......
Muhammad diutus  untuk 
" Menjelaskan (ليبين) " seluruh hamba dan petunjuk Alam Semesta.
Qur'an Surah. Ibrahim Ayat : 7, menjelaskan :

وما ارسلنا من رسول الا بلسان قومه، ليبين لهم، فيصل الله من يشاء و يهدى من يشاء° وهو العزيز الحكيم
Artinya :

' Kami tidak mengutus seorang Rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, agar ia bisa memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka الله menyesatkan siapa yang Dia kehendak, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia- Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana."

Dari itulah saudara-saudariku sekalian........

Mengapa kenabian Muhammad dimulai dengan sebuah Titik :
أقراء بسم ربك

" Iqra' Bismi Rabbika "

Mulailah segala sesuatu dengan perspektif Ilahi yaitu " Dengan Nama Tuhan-mu." yang menyeluruh.

Tanpa perspektif tersebut...
Tentu segala sesuatu akan  kacau dan kabur.
Dengan mudah orang akan kehilangan keterangan dan tujuan, kemudian terjerat dan tersesat oleh sulitnya pantulan- pantulan  realitas.

****
Minat yang kuat pada detail, pantulan, Atom, molekul, virus, kasus, bidang, isu dan segala hal yang partikular - individual mengemukakan sebagai pelarian yang alami.
Dan dengan landasan trial dan error.
Misi penciptaan manusia tersedot pada penyelidikan mengenai clurlles, Nitty Britty dan potongan-potongan informasi yang bertebaran.. 

****
Saudara-saudariku...

Sangat sulit kita membedakan orang seperti diatas dengan pejalan yang tertatih-tatih didalalam kegelapan.
Sebab : Keduanya sama-sama suka bermain dalam trial dan error.
Kemudian merasa aman dengan menjamah segala yang ada didepannya.
Firman الله Ta'ala :

" Perumpamaan mereka yaitu Munafiqin seperti orang yang menyalakan 🔥 api. Ketika 🔥 itu menerangi sekitarnya, الله menghapus cahaya mereka itu, dan meninggalkan mereka dalam kegelapan tanpa bisa melihat."
(QS. Al- Baqarah : 17) 

 
****
Muhammad sebagai Nur... Berkaitan erat dengan peta yang jelas yaitu :
" Kitabun Mubin dan Shirathal Mustaqim "

Dengan bantuan Nur Muhammad .....
Petunjuk-petunjuk peta   bara akan bisa terbaca...
Dan perjalanan akan menjadi mudah.
Sebaliknya.......
 Dalam kegelapan...
Peta tak akan bisa terbaca. Dan semua petunjuk menjadi tidak nyata.
Akan tetapi....
Peta yang jelas dan pelita yang terang, tidak akan berarti tanpa pungsi penglihatan yang baik' pada pelaku perjalanan.
Itulah... Mengapa selain diutus sebagai Nur yang menerangi Alam, Muhammad juga diutus untuk menerangi diri manusia.
Allah berfirman :

كما ارسلنا فيكم رسولا منكم بثلوا عليكم، ءايتنا و يزكيكم و يعلمكم  الكتب والحكمة و يعلمكم مالم تكونوا تعلمون
Artinya :

" Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan Ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kamu Al- Kitab dan Al- Hikmah serta mengajarkan kamu apa yang belum kamu ketahui." 
(QS. Al- Baqarah :151)

****
Atas dasar Ayat yang saya sebutkan diatas ini....
Kehadiran Muhammad sebagai Pelita yang menerangi (Sirajan Muniran Qur'an Surah : Al- Ahzab. Ayat : 46)
Bukan bersifat insidental tetapi bersifat esensial terhadap pemciptaan Alam Semesta ini.
Nur Muhammad adalah :
Rasion d,atre  penciptaan Alam Semesta. Sebab :
Tanpa Nur tersebut....
Alam menjadi gelap dan manusia-manusia menjadi buta, sampai  Sia-sialah pemciptaan tersebut.

Dalam konteks keterangan saya inilah ........
Kita dapat memahami dan mengetahui Hadits Qudsi yang berbunyi :

لولك يا محمد لما خلقت الأفلؤ

" Tanpamu wahai Muhammad, tidak akan Aku- jadikan Alam Raya ini."

Dalam Hadits Qudsi yaitu lain juga الله berfirman :

" Pertama yang dijadikan adalah Cahaya Muhammad."

****
Menurut Mulla Sadra :

Hadits ini tidak bertentangan dengan hadits yang menegaskan akal sebagai awal pemciptaan, sebab :
Akal dan Nur Muhammad mempunyai pungsi yang identik.
Melalui keduanya .....
Tujuan utama Pencipta adalah :
" Pengenalan dan Penyembahan kepada الله bisa tercapai."

****
Dirancang kematian.....
Syibli melantunkan bait-bait puisinya sebagai berikut :

" Setiap 🏠 yang engkau diami...

Tidak membutuhkan lampu sama sekali....

Dan pada hari ketika bukit-bukit dibawakan...

Maka buktiku Adalah wajahmu..... "

*****
Dalam Mantiq Ath- Thayr ..
Fariduddin Attar bersya'ir :

" Yang pertama-tama muncul dari kedalaman yang tidak terlihat adalah cahaya Beliau yang Murni...

Tidak perlu dipertanyakan dan tidak perlu diragukan lagi ....

Cahaya yang tinggi ini.... Membuka tanda-tanda- tahta, kursi, pena, dan lembaran catatan dengan begitu muncul...

Satu bagian dari cahaya yang murni menjadi dunia. Dan bagian lain menjadi Adam, dan benih ummat manusia.....

****

Jika begitu saudara-saudariku sekalian..........

Betapapun Tingginya dan Agungnya Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya untuk menerangi Alam Semesta raya ini.......
Beliau tetap mesti ditegaskan sebagai :
" Abduhu (عبده) "

Dan menurut beberapa riwayat........
Predikat  " Abduhu " itu memang demikian disenangi oleh :
Nabi Muhammad Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam

Sungguh .............. !!!!
Dalam kehambaan itu.....
Nabi dan semua manusia menemukan kebebasan dari segala beban dan ketenangan yang tiada terkira, sebab :
Keyakinan si Hamba bahwa :
" Tuannya adalah Tuhan yang Maha Pengasih lagi  Maha Penyayang "

صدق الله العظيم
Shadaqallaahu 'Azhiim...
امين اللهم امين 
Aamiin Allaahumma aamiin.................
والسلام
Penulis ✍️ asli :
جعفر الدين الجيلان الصدق

Minggu, 17 Mei 2020

Titik Ba'

MENCARI ILMU TITIK BA

Yang dimaksud Ilmu Titik Ba itu ialah ilmu Ma'rifatullah dan ilmu ini bukan ilmu yang sembarangan didapat. Ada syaratnya ada gurunya ada usahanya.

Bukan dengan cara membaca ilmu hakikat lalu kita telah ma'rifat itu namanya masih meraba-raba, menebak-nebak dan berprasangka semata, bukan makrifat buah dari perjalanan sendiri, hingga merasakan dan mengalami sebdiri.

Ilmu ma'rifat ialah ilmu yang pernah Allah ajarkan dahulu tatkala kita masib berada di "Alam Syahadah" yaitu alam sebelum alam rahim ibu.

“Kuntu kanzan makhfiyyan wa ahbabtu an u’rafu fa khalaqtu al-khalq li ya’rifuni”
(Aku ialah khazanah yang tersembunyi, dan Aku ingin dikenal, maka Kuciptakan makhluk untuk mengenal-Ku).

Namun ilmu ini terlepas saat kita terlahir kedunia, dan musti kita cari kembali sebelum meninggal dunia. Ilmu yang wajib kita pelajari untuk sampai ke hadiratNya, yaitu Ilmu Hakikat dan Makrifat.

Firman Allah dalam Al-Quran :
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Mengenal-Ku)” (QS. Adz-Dzariyaat 51: 56)

Seluruh isi kandungan Kitab Al-Qur'an itu terangkum dalam Surat Alfatihah, dan rangkuman Alfatihah itu ada di Bismillah, dan seluruh rangkuman Bismillah itu terangkum didalam "Titik" didalam Ba.

Misalkan air laut dijadikan tinta, dan daun-daun diseluruh jagat ini dijadikan kertasnya, masih belum cukup untuk menuliskan ilmu Allah.

Ilmu Allah itu luas, engkau tidak akan pernah bisa menyelami semua ilmuNya karena keluasanNya, yang harus engkau lakukan saat ini hanyalah perlu memahami satu titik saja untuk memahami keluasanNya, di titik Ba itu.

Sayyidina Ali berkata :
“Aku adalah titik di bawah huruf Ba pada Basmalah”.

Huruf Ba tanpa Titik ibarat Dzattul Haq Allah yang sudah ada ketika segala sesuatunya belum ada atau belum diciptakan yang selanjutnya karna Dzattulhaqq inilah tercipta Alam semesta atau tercipta segala sesuatunya menjadi ada.

Tanda titik didalam huruf Ba itu berjumlah satu, misalnya titik itu diberikan pada huruf Nun, bentuk huruf nun sama dengan huruf Ba kecuali beda letak titik. Bila titik disimpan diatas, maka disebut Nun. Bila disimpan dibawah, maka disebut Ba.

Sebelum Dia menciptakan Alam semesta, lebih dahulu Dia menciptakan kalam. Kalam tersebut diperintahkan oleh-Nya untuk mencatat semua khazanah-Nya. Titik Nun melambangkan khazanah yang tersembunyi itu (kuntu kanzan makhfiyyan).

Titik Nun lalu diturunkan sehingga dia tidak lagi dilingkupi oleh sebuah wadah. Ketika itu nun berubah menjadi Ba, dengan tujuan agar khazanah-Nya dapat dikenal (wa ahbabtu an u’rafu). Setelah itu, Allah menciptakan makhluk (fa khalaqtu al-khalq), sehingga Dia dapat dikenali.

Dikatakan oleh para sufi bahwa Allah menyimpan semua ilmu pada huruf Ba dalam ungkapan yang berbunyi :
"Bi Kana Wa Ma Kana. Bi Yakunu Wa Ma Yakunu. Fa Wujudul ‘Awalimi Bi"
Artinya: "Hanya dengan izin-Ku segala sesuatu yang telah ada itu dapat terwujud, dan hanya dengan izin-Ku sajalah semua yang akan ada dapat terwujud."

Atau sederhananya.
"BI KANA MA KANA, BI YAKUNU MA YAKUNU, FAWUJUDUL AWALIMI BI" (Dengan AKU ada apa saja yang telah ada dan dengan AKU akan ada apa saja yang akan ada maka semua alam ini adalah denganKU)

1) Bi kana ma kana Maksudnya: BersamaKU ada apa yang telah ada. apa yang telah ada? Nur Ala Nur  (Nurullah) kemudian di ikuti dengan..

2) Bi kanu ma yakunu Maksudnya: BersamaKU akan ada apa saja yang akan ada. Apakah yang akan ada? Nur Muhammad, Asal Kejadian atau hakikat Muhammad yang berasal dari Wujud, Ilmu, Nur, Shuhud.
Yakni asal Wujud daripada Dzat, asal Ilmu daripada Sifat, asal Nur Daripada Asma dan asal Shuhud daripada Af’al yang semuanya asal daripada Allah. Lalu kepada..

3) Fa wujudul ‘awalimi bi Maksudnya: Adanya sekalian alam ini adalah denganKU.

Sehingga dengan demikian lebih jelasnya bahwa wujud alam dan seluruh isinya hanyalah karena izin Allah dan hakikat segala perwujudan ini adalah atas nama Allah belaka.

Semua itu, menandakan bahwa Allah berkenan bahkan senang apabila perbuatan, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya dikenal oleh manusia. Jadi, titik Ba pada bismillah merupakan pintu gerbang dan sekaligus gudang yang menyimpan segala khazanah-Nya.

Wallahu a'lam

Sabtu, 16 Mei 2020

Junaid, tentang fana

Syibli meriwayatkan : Aku pergi mengunjungi Abul Husain Ahmad an-Nuri. Aku dapati ia sedang bermeditasi dan tak sehelai rambutnya pun yang bergerak.

“Dari siapakah engkau belajar meditasi yang seperti ini?,” aku bertanya kepadanya.

“Dari seekor kucing yang duduk di lubang tikus,” jawab Abul Husain Ahmad an-Nuri. Binatang itu malah lebih tenang daripada aku.”

Hal ini akan berdampak pula dalam kehidupannya orang bijak ini akan terlepas dari pahala sebab akibat, mencapai tahap yang teramat stabil dan ketenangan luar biasa (tak tergoyahkan oleh fenomena apapun juga).

Abu 'l-Husain al-Nuri adalah penduduk asli Baghdad. Dia adalah seorang teman al-Junaid dan tokoh Sufi seperti Abu Bakr asSyibli dan Huseyn Manshur al-Hallaj di wilayah tersebut.

Namanya "Nuri" berarti "Manusia Cahaya"

Al-Nuri taat beragama dan memiliki temperamen pertapa. Dikatakan bahwa ketika dia berangkat kerja di pagi hari, dia akan membeli beberapa roti dan kemudian membagikannya kepada orang miskin dalam perjalanannya. Dia kemudian akan pergi ke masjid dan berdoa sampai tengah hari sebelum tiba di tempat kerja - tidak pernah makan makanan untuk dirinya sendiri.

Tetapi bahkan dengan belas kasih dan perjuangannya, pada titik tertentu ia menjadi frustrasi karena ia masih diterpa hasrat dan tidak menembus kebenaran batin mistik. Dia kemudian membuat tekad kuat untuk mengikuti kehendak Tuhan dalam segala hal dan tidak terganggu oleh kenyamanan dan keinginan. Dia bertekad untuk menghadapi setiap aspek dirinya, bahkan mempertimbangkan kemungkinan bahwa usaha keras dan kerja kerasnya di masa lalu adalah kemunafikan - sebuah tekad untuk menyingkirkan semua kepalsuan dan penghalang antara dirinya dan Tuhan.

Dalam proses ini, dia mulai menyadari bahwa pikiran kedagingan, diri yang palsu, dan keakuan, mengklaim sebagian dari semua yang disentuh hati. Jadi, ketika Tuhan mengirimkannya wawasan ilahi, identitas yang mencengkeram ini mencuri sebagian darinya - yang menjelaskan kemiskinan pengalaman mistiknya sampai titik itu.

Tentang perjalanan spiritualnya:
Pernah ku dengar bahwa hati para mistik merupakan alat yang amat awas dan mengetahui rahasia segala sesuatu yang terlihat dan terdengar oleh mereka. Karena aku sendiri tak memiliki hati yang seperti itu, maka aku pun berkata kepada diriku sendiri : “Ucapan-ucapan para Nabi dan manusa-manusia suci adalah benar. Mungkin sekali aku telah bersikap munafik dalam usahaku selama ini, dan kegagalanku ini adalah karena kesalahanku sendiri. Di sini tak ada tempat untuk berbeda pendapat. Sekarang aku ingin merenungi diriku sendiri sehingga aku benar-benar mengenalnya.”

Maka, aku merenungi diriku sendiri. Ternyata kesalahanku adalah bahwa hati dan hawa nafsuku bersatu. Bila hati dan hawa nafsu berpadu, celakalah! Karena jika ada sesuatu yang menyinari hati, maka hawa nafsu akan menyerap sebagian daripadanya. Sadarlah aku bahwa hal inilah yang menjadi sumber dilemma yang ku hadapi selama ini. Segala sesuatu yang datang dari hadirat Allah ke dalam hatiku, sebagian diserap oleh hawa nafsuku.

Sejak saat itu, segala perbuatan yang diperkenankan oleh hawa nafsuku tidak ku lakukan. Yang aku lakukan adalah hal-hal lain yang tak disukainya. Misalnya, apabila hawa nafsuku berkenan jika aku Shalat, berpuasa, bersedekah, menyepi atau bergaul dengan sahabat-sahabatku, maka aku melakukan hal yang sebaliknya. Akhirnya segala hal yang diperkenankan hawa nafsuku dapat ku buang dan rahasia-rahasia mistik mulai terbuka di dalam diriku.

Suatu hari aku berdialog dengan diriku sendiri :
“Siapakah engkau,” aku bertanya.

“Aku adalah mutiara dari Lubuk Tanpa Hasrat.” Terdengar jawaban. “Katakan kepada murid-muridmu, lubukku adalah Lubuk Tanpa Hasrat dan mutiaraku adalah Mutiara dari Lubuk Tanpa maksud.”

Kemudian aku turun ke sungai Tigris 
“Aku tidak akan beranjak dari tempat ini,” aku berkata. “sebelum ikan terjerat ke dalam jalaku.”

Akhirnya masuklah seekor ikan ke dalam jalaku. Ketika ku angkat jalaku itu, akupun berseru : “Alhamdulillah, perjuanganku telah berhasil.”

Aku menunjungi Junaid dan berkata kepadanya : “Sebuah karunia telah dilimpahkan kepdaku.”

“Abul Husain Ahmad an-Nuri, junaid menjawab, “Jika yang terjerat oleh jalamu itu adalah seekor ular, bukan seekor ikan, itulah pertanda sebuah karunia. Karena engkau sendiri telah campur tangan. Hal itu hanyalah sebuah tipuan, bukan sebuah karunia. Tanda dari suatu karunia adalah bahwa engkau sama sekali tidak ada di sana lagi.”

Sejak saat itu, ia menggagalkan diri palsu itu di setiap kesempatan. Bahkan dalam melayani orang lain, jika dia menemukan pikiran kedagingan mendapatkan kepuasan, dia dengan cepat berhenti dan mencari cara baru untuk membantu orang lain. Al-Nuri mengatakan bahwa dengan melakukan ini dia perlahan menemukan jalan menuju wawasan mistik yang sejati.

Rabu, 13 Mei 2020

makna memaafkan

Makna  maaf memaafkan

Dasarnya adalah menuntun kesadaran pribadi kepada kesadaran universal hingga tidak ada diskriminasi, perbedan suku, ras, agama, kelompok atau apapun dan tidak merasa lebih baik, lebih pandai, lebih mengetahui karena keseluruhan saling terhubung menjadi perenungan bagi diri sendiri hingga ikhlasnya menjadi ketenangan jiwa.

Ikhlas dalam segala keadaan didalam dan diluar diri sendiri yaitu menerima segala keadaan yang dijalani dan memahami bahwa dasar segala keadaan tidak akan terjadi jika bukan telah ditentukan akan terjadi maka ada pelajaran untuk diri sendiri dibalik setiap keadaan yang terjadi

Ikhlas dalam segala prilaku dan ucapan didalam dan diluar diri sendiri yaitu segala prilaku dan ucapan yang dilihat, didengar dan dirasakan adalah kenyataan yang tidak akan terjadi jika bukan kuasa dari Allah ditiap-tiap yang hidup atau kuasa yang Maha hidup didalam tubuh sebagai bentuk keseimbangan dari baik dan buruk, sebab akibat karena segalanya harmoni dalam keseimbangan.

Memaafkan dan menerima maaf dari sesuatu yang sesuatu itu sendiri adalah berasal dari yang bukan sesuatu, memperhalus rasa membentuk kebijaksanaan universal seakan-akan aku, dia, kalian dan mereka adalah berasal dari bagian diri sendiri sehingga tidak ada pengaruh ketidak tenangan, kebencian atas keadaan prilaku didalam ataupun diluar diri sendiri.

Memaafkan adalah bentuk kasih sayang Allah yang selalu lebih utama daripada kemurkaan-Nya dan disaat kesalahan itu terjadi Ia sudah memaafkannya.

#dharma

Senin, 11 Mei 2020

Keajaiban Shalawat...

Dikisahkan oleh Syekh Syibli bahwa setelah salah seorang tetangganya wafat, ia bermimpi tentangnya, dan dalam mimpi itu ia bertanya kepada tetangganya itu: "Apa yang Allah perbuat terhadapmu?"

Ia menjawab: "Wahai Syekh! Kengerian-kengerian luar biasa yang aku saksikan di dalam Kubur dan aku dibuat sangat menderita karenanya. Aku sampai tidak bisa berkata-kata ketika kulihat Malaikat Munkar dan Nakir.

Aku berkata dalam diriku, "Aduhai celakanya aku! Apakah azab benar-benar telah menghampiriku?".

"Di dunia aku adalah seorang Muslim dan wafat dalam agama Islam, kemudian kedua malaikat itu memintaku menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan keras".

Tiba-tiba muncul seorang lelaki berwajah indah dan beraroma harum dan menempatkan dirinya di antara aku dan kedua Malaikat, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kedua Malaikat itu dan dengan cara terbaik. 

Kemudian aku bertanya kepadanya, "Siapa engkau?" Semoga Allah merahmatimu".

Ia menjawab, "Aku adalah Sholawat "Allohumma Shalli 'Alaa Sayyidina Muhammad Wa 'Alaa Aali Sayyidina Muhammad", yang engkau selalu baca untuk Nabi Muhammad dan Keluarga Nabi Muhammad".

"Sesungguhnya aku diperintahkan dan diberi tanggung jawab untuk menolong dan menyelamatkanmu kapanpun engkau butuhkan dan di manapun'."

📚Sumber ::
Kitab Al-Sholawat Miftah Hallil Musykilat, Ali Qazweini, hal : 96.

اللهم صل على سيدنا محمدو على اله سيدنا محمد